Selamat Datang Di Blog 212

Selamat Datang Di Blog 212

Selamat Datang Di Blog 212

jangan lupa saran dan kritiknya

Jumat, 03 Juni 2011

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT TOKOH-TOKOH DUNIA


PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT TOKOH-TOKOH DUNIA

Definisi Pendidikan islam
Menurut Ki Hhajar Dewantara, pendidikan itu di mulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah ia meninggal duni. Jadi pendidikan yang di maksud Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan seumur hidup.[1]
Menurut Tadjab pendidikan Islam, dapat diartikan sebagai pendidikan yang dilaksanakan dengan bersumber dan berdassar atas ajaran agama Islam.[2]
Menurut Marimba pendidikan Islam ialah, bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran agama Islam.[3] Kata “Islam “ dalam “pendidikan Islam” menunjukan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang bewarna Islam, pendidikan yang Islami, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam.
Adapun para tokoh-tokoh pemikir pendidikan islam yaitu :
A.    Al-Ghazali
Salah atu keistimewaan Al-Ghazali adalah pembahasan  dan pemikirinnya yang sangat luas dan mendalam pada masalah pendidikan. Selain itu, Al-Ghazali mempunyai pemikiran dan pandangan luas mengenai aspek-aspek pendidikan.
Pada hakikatnya usaha pendidikan di mata Al-Ghazali adalah mementingkan semua hal tentang pendidikan.  Adapun konsep pendidikan yang di kembangkan oleh Al-Ghazali (awal dari kandungan  ajaran Islam dan tradisi Islam), berprinsip pada pendidikan manusia seutuhnya.
Adapun aspek-aspek pendidikan menurut Al-Ghazali adalah :
1.      Aspek pendidikan keimanan
Al-Ghazali mengatakan “iman adalah mengucapkan dengan lidah, mengakui benarnya dengan hati dan mengamalkan dengan anggota.
2.      Aspek pendidikan akhlak
Suatu bidang ilmu pengetahuan yang paling banyak mendapat perhatian, pengkajian dan penenelitian oleh Al-Ghazali adalah lapangan ilmu akhlak karena berkaitan dengan prilaku manusia, sehingga hamper setiap kitab-kitabnya yang meliputi berbagai bidang selalu ada hubungannya dengan pelajaran akhlak dan pembentukan budi pekerti manusia.
3.      Aspek pendidikan akliah
Akal menurut Al-Ghazali adalah “akal adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan tempat terbit dan sendi-sendinya. Ilmu pengetahuan itu berlaku dari akal, sebagaimana berlakunya buah-buahan dari pohon, sinar dari matahari dan penglihatan dari mata.”
4.      Aspek  pendidikan sosial
Dalam ihya Ulumuddin juz 1, Al-Ghazali mengatakan :
“akan tetapi, manusia itu dijadikan Allah SWT, dalam bentuk yang tidak dapat hidup sendiri. Karena tidak dapat mengusahakan sendiri seluruh keperluan hidupnyabaik untuk memperoleh makanan dengan bertani, berladang, dan memperoleh roti dan nasi, memperoleh pakaian dan tempat tinggal serta menyiapkan alat-alat untuk semuanya. Dengan demikian manusia memerlukan pergaulan dan saling membantu.”
5.      Aspek pendidikan jasmaniah
Menurut Al-Ghazali keutamaan-keutamaan jasmaniah terdiri dari-dari empat macam: kesehatan jasmani, kekuatan jasmani, keindahan jasmani, dan panjang umur.[4]

B.     IBN SINA
Dalam sejarah pemikiran islam, Ibn Sina dikenal sebagai intelektual Muslim yang banyak mendapat gelar.
Pemikiran Ibn Sina dalam bidang  pendidikan anatara lain berkenaan dengan tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, guru dan pelaksanaan hukuman dalam pendidikan. Kelima aspek pendidikan yang di kemukakan sebagai berikut :
1.      Tujuan Pendidikan
Menurut Ibn Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kea rah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan Fisik, intelektuaal dan budi pekerti.
2.      Kurikulum
Secara sederhana istilah kurikulum digunakan untuk menunjukan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah.
3.      Metode Pengajaran
Konsep metode pengajaran yang ditawarkan Ibn Sina antara lain terlihat pad setiap materi pelajaran. Dalam setiap pembahasan materi pelajaran ibn Sina selalu membicarakan tentang cara mengajarkan kepada anak didik.
4.      Konsep Guru
Ibn Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, beragama, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main di hadapan murid.
5.      Konsep Hukuman dalam pengajaran
Ibn Sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Namun dalam keadaan yang terpaksa hukuman dapat dilakukan dengan cara hati-hati.[5]

C.     BURHANUDIN AZ-ZARNUJI
Konsep pendidikan yang di kemukakan Az-Zarnuji secara monumental dituangkan dalam karyanya Ta’lim al-Muta’allim Tburuq al-Ta’allum.
Dari kitap tersebut dapat di ketahui tentang konsep pendidikan islam yang di kemukakan Az-Zarnuzi. Secara umum kitap ini mencangkup tiga belas pasal yang singkat,yaitu:
1.      Pengertian ilmu dan keutamaannya
2.      Niat di kala belajar
3.      Memilih ilmu,guru dan temanserta ketabahan dalam belajar
4.      Menghormati ilmu dan ulama
5.      Ketekunan, kontiunitas dan cita-cita luhur
6.      Permulaan dan intentitas belajar serta tata tertipnya
7.      Tawakkal kepada Allah
8.      Masa belajar
9.       Kasih sayang dan memberi nasihat
10.  Mengambil pelajaran
11.   Wara  ( menjaga diri dari yang haramdan syubhat) pada masa belajar)
12.  Penyebab hafal dan lupa, dan
13.  Masalah rezeki dan umur
Dari ketiga belas pasal tersebut dapat di simpulkan kedalam tiga bagian besar. Sebuah analisa yang di ajukan abdul Muidh Khan dalam bukunya The Muslim Theories of Education During the middle Ages, menyimpulkan bahwa inti kitab ini mencakup tiga hal, yaitu :
1.      The Division of knowledge (Pembagian Ilmu)
2.      The purpose of Learning (Tujuan dan niat Belajar)
3.      The method of study (Metode Pembelajaran).[6]
D.    IKHWAN AL-MUSLIMIN
Konsep pendidikan ikhwan al-muslimin ditujukan bagi pemecahan berbagai massalah social yang di hadapi. Dengan kata lain, ikhwan al-Muslimin melihat pendidikan sebagai alat untuk membantu masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.
Atas dasar konsep tersebut, ikhwan al-muslimin mengajukan permasalahan pendidikan sebagai berikut :
1.Sistem Pendidikan
Salah satu pemikiran ikhwan al-muslimin di bidang pendidikan berkaitan dengan upaya mengintegrasikan system pendidikan yang dikotomis antara pendidikan agama dan pendidikan umu.
2.Karakter Pendidikan Islam
Menurut ikhwan al-muslimin, bahwa karakter pendidikan Islam tidak hanya terletak pada optimalisasi pengembangan potensi dan sumber daya manusia, tetapi harus pula didasarkan pada kejernihan iman dan niat yang positif, karena tanpa itu semua penerapan sains dari hasil karya manusia hanya akan menimbulkan boomerang, bahkan dapat mendatangkan bahaya kehidupan dari yang tidak diperkirakan sebelumnya.
3.Lembaga Pendidikan
Ikhwan al-Muslimin mengajukan lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan lembaga pendidikan non formal atau luar sekolah. Ikhwan al-Muslimin  memberikan cirri Islam yang sangat kuat.
Dalam hubungan ini Mariyam Jamilah mengatakan, bahwa Hasan al-Banna, selaku pendiri . Ikhwan al-Muslimin tidak bosan-bosannya mengimbau pemerintah agar menata kembali pendidikan yang berasaskan Islam dan memperhatikan pentingnya penyusunan kurikulum yang berbeda antara siswa dan siswi, dan secara khusus ia memohon agar pengajaran ilmu-ilmu eksakta tidak dibaurkan dengan paham materealisme.[7]
E.     IBN TAIMIYAH
Pemikiran Ibn Taimiyah dalam bidang pendidikan dapat dibagi kedalam pemikirannya dalam bidang falsafah pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum, hubungan pendidikan dengan kebudayaan.
 Seluruh pemikirannya dalam bidang pendidikan itu ia bangun berdasarkan keterangan yang jelas sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah melalui pemahaman yang mendalam, jernih dan enerjik. Pemikirannya dalam bidang pendidikan itu merupakan respons terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat islam pada saat itu yang menuntut pemecahan yang secara strategis melalui jalur pendidikan.
Semua itu secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.Falsafah Pendidikan, dasar atau asas yang digunakan sebagai acuan falsafah pendidikanoleh Ibnu taimiyah dalah ilmu yang bermanfaat sebagai asas bagi kehidupanyang cerdas dan unggul.
2.Tujuan Pendidikan, Ibnu taimiyah membagi tujuan pendidikan menjadi tiga bagian yaitu, tujuan Individual, tujuan Sosial, dan Tujuan Da’wah Islamiyah
3.Kurikulum, Ibnu taimiyah membagi kurikulum ke tiga bagian yaitu , Ilmu agama, Ilmu Aqliyah, Ilmu Askariyah,
4.Bahasa Pengantar dalam Pengajaran, Ibnu Timiyah menganjurkan untuk menggunakan bahasa Arab.[8]
F.      AL-MAWARDI
Pemikiran Al-Mawardi dalam bidang pendidikan sebagian besar terkonsentrasi pada masalah etika hubungan guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Pemikiran ini dapat di pahami, karena dari seluruh aspek pendidikan, guru memegang peranan yang sangat penting, bahkanberada pada garda terdepan.
Keberhasilan pendidikan sebagian besar bergantung kepada kualitas guru baik dari segi penguasaanya terhadap materi pelajaran yang di ajarkannya maupun cara menyampaikan pelajaran tersebut serta kepribadiannya yang baik, yaitu pribadi yang terpadu antara ucapan dan perbuatannya secara harmonis.
















[1] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Jakarta, hal. 78
[2] Zulkarnain, Transformasi Nilai-nilai Pendidikan Islam, (Yogyakarta 2008) hal. 17
[3] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (bandung) hal. 32
[4] Hamdani Ihsan, dan A fuad Ihsan, Filsafat pendidikan Islam, Bandung, hal. 235-259
[5] Abuddin Nata, pemikiran Para Tokoh Islam, Jakarta, hal. 67-68
[6] Abuddin Nata, pemikiran Para Tokoh Islam, Jakarta, hal. 107
[7] Abuddin Nata, pemikiran Para Tokoh Islam, Jakarta, hal. 151
[8] Abuddin Nata, pemikiran Para Tokoh Islam, Jakarta, hal 142

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar